A. Latar
Belakang
Berbicara tentang hakikat manusia, akan
mengarahkan kita kepada
pertanyaan penting dan mendasar tentang manusia, yaitu apakah manusia
itu? Untuk menjawab pertanyaan itu mari kita melihat beberapa definisi tentang
manusia. Beberapa ahli filsafat, Socrates misalnya,
menyebut manusia sebagai Zoon
politicon atau hewan yang
bermasyarakat, dan Max
Scheller menyebutnya sebagai Das Kranke Tier atau hewan yang sakit
yang selalu bermasalah dan gelisah. Ilmu-ilmu humaniora termasuk ilmu filsafat
telah mencobamenjawab pertanyaan mendasar tentang manusia itu,
sehingga terdapat banyak rumusan atau pengertian tentang manusia. Selain
yang telah disebutkan diatas, beberapa rumusan atau
definisi lain tentang manusia adalah sebagai berikut:
1. Homo sapiens atau makhluk yang
mempunyai budi.
2. Homo faber atau Tool making
animal yaitu binatang yang pandai
membuat bentuk peralatan dari
bahan alam untuk kebuTuhan hidupnya.
3. Homo economicus atau makhluk
ekonomi.
4. Homo religious yaitu makhluk
beragama.
5. Homo laquen
atau makhluk yang
pandai menciptakan bahasa
dan menjelmakan pikiran dan perasaan manusia dalam kata-kata yang
tersusun.
Di samping
itu masih ada
ungkapan lain tentang
definisi manusia, diantaranya, manusia
sebagai: animal rationale
(hewan yang rasional atau
berpikir), animal symbolicum (hewan
yang menggunakan symbol)dan animal educandum (hewan yang bisa dididik). Tiga
istilah terakhir ini menggunakan kata animal atau hewan dalam
menjelaskan manusia. Hal
ini mengakibatkan banyak
orang terutama dari kalangan Islam tidak sependapat dengan ide tersebut.
Dalam Islam hewan dan manusia adalah dua makhluk yang sangat berbeda. Manusia
diciptakanAllah sebagai makhluk sempurna
dengan berbagai potensi
yang tidak diberikan kepada hewan,
seperti potensi akal
dan potensi agama.
Jadi jelas bagaimanapun keadaannya, manusia tidak pernah
sama dengan hewan. Munir Mursyi seorang ahli pendidikan Mesir mengatakan bahwa
pendapat tentang manusia sebagai animal rationale atau al-Insan Hayawan
al-Natiq bersumber dari filsafat Yunani dan bukan dari ajaran Islam.
Terkait dengan hal ini adalah
gagalnya teori evolusi
Charles Darwin. Ternyata
Darwin tak pernah
bisa menjelaskan dan membuktikan
matarantai yang dikatakannya
terputus (the missing link)
dalam proses transformasi
primata menjadi manusia. Jadi
pada hakikatnya manusia tidak
pernah berasal dari hewan manapun,
tetapi makhluk sempurna ciptaan Allah dengan berbagai
potensinya, “Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia
dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS:95:4).
B. Rumusan
Masalah
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Manusia
A.
Manusia adalah keyword yang harus
dipahami terlebih dahulu bila kita ingin memahami pendidikan. Untuk itu perlu kiranya melihat secara lebih
rinci tentang beberapa pandangan mengenai hakikat manusia:
1.
Pandangan Psikoanalitk
Dalam
pandangan psikoanalitik diyakini
bahwa pada hakikatnya manusia digerakkan oleh dorongan-dorongan
dari dalam dirinya yang bersifat instingtif. Hal ini menyebabkan tingkah laku
seorang manusia diatur dan dikontrol oleh kekuatan psikologis
yang memang ada
dalam diri manusia. Terkait hal ini diri manusia tidak memegang kendali
atau tidak menentukan atas nasibnya
seseorang tapi tingkah
laku seseorang itu
semata-mata diarahkan untuk
mememuaskan kebuTuhan dan insting biologisnya.
2.
Pandangan Humanistik
Para humanis menyatakan bahwa manusia memiliki
dorongan-dorongan dari dalam dirinya
untuk mengarahkan dirinya mencapai tujuan yang positif. Mereka menganggap
manusia itu rasional dan dapat menentukan nasibnya sendiri. Hal ini
membuat manusia itu
terus berubah dan
berkembang untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih
sempurna. Manusia dapat pula menjadi anggota kelompok masyarakat
dengan tingkah laku yang
baik. Mereka juga
mengatakan selain adanya dorongan-dorongan tersebut,
manusia dalam hidupnya juga
digerakkan oleh rasa tanggung jawab sosial dan keinginan mendapatkan sesuatu. Dalam hal
ini manusia dianggap
sebagai makhluk individu
dan juga sebagai makhluk sosial,
Adapun beberapa defenisi manusia dalam pandangan islam
adalah sebagai berikut :
1.
Manusia Sebagai Hamba Allah (Abd Allah)
Sebagai hamba Allah, manusia wajib
mengabdi dan taat kepada Allah selaku Pencipta karena adalah hak Allah untuk
disembah dan tidak disekutukan. Bentuk pengabdian manusia
sebagai hamba Allah tidak terbatas
hanya pada ucapan
dan perbuatan saja, melainkan juga
harus dengan keikhlasan hati,
seperti yang diperintahkan dalam
surah Bayyinah: “Padahal mereka tidak
disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam menjalankan agama yang
lurus …,” (QS:98:5). Dalam
surah adz- Dzariyat Allah menjelaskan: “Tidaklah
Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah Aku.”
(QS51:56).
2.
Manusia Sebagai al- Nas
Manusia, di dalam al- Qur’an juga disebut
dengan al- nas. Berdasarkan fitrahnya manusia memang makhluk sosial. Dalam hidupnya
manusia membutuhkan pasangan,
dan memang diciptakan berpasang-pasangan seperti
dijelaskan dalam surah
an- Nisa’, “Hai sekalian manusia,
bertaqwalaha kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu daridiri, dan
dari padanya Allah
menciptakan istirinya, dan
dari pada keduanya
Alah memperkembangbiakkan laki-laki
dan perempuan yang
banyak. Dan bertakwalah kepada Allah dengan
(mempergunakan) namanya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah
hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu
menjaga dan mengawasi kamu.”
(QS:4:1).
Selanjutnya dalam surah al-
Hujurat dijelaskan: “Hai manusia
sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorng laki-laki dan seorang perempuan
dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu disisi
Allah adalah yang paling taqwa di antara
kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Mengenal.” (QS:49:13).
3.
Manusia sebagai khalifah Allah
Hakikat manusia sebagai khalifah
Allah di bumi dijelaskan dalam surah alBaqarah ayat 30: “Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya
Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”Mereka berkata:”Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji
engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui
apa yang kamu
tidak ketahui.” (QS:2: 30), dan
surah Shad ayat 26,“Hai
Daud, sesungguhnya Kami menjadikan
kamu khalifah (peguasa) di muka bumi,
maka berilah keputusan diantara manusia
dengan adil dan
janganlah kamu mengikuti hawa
nafsu. Karena ia
akan menyesatkan kamu
dari jalan Allah. …” (QS:38:26).
4.
Manusia sebagai Bani Adam
Sebutan manusia sebagai bani Adam
merujuk kepada berbagai keterangan dalam al- Qur’an yang menjelaskan bahwa
manusia adalah keturunan Adam dan bukan berasal dari hasil evolusi dari
makhluk lain seperti yang dikemukakan oleh Charles Darwin. Dalam
surah al- A’raf dijelaskan: “Hai anak Adam,
sesungguhnya Kami telah
menurunkan kepadamu pakaian
untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian
taqwa itulah yang paling baik. Yang
demikian itu adalah
sebagian dari tanda-tanda
kekuasaan Allah, semoga
mereka selalu ingat.
Hai anak Adam
janganlah kamu ditipu
oleh syaitan sebagaimana ia telah
mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, …” (QS : 7; 26-27).
5.
Manusia sebagai Al-Insan
Manusia disebut
al- insan dalam al- Qur’an mengacu
pada potensi yang diberikan Tuhan kepadanya. Potensi antara
lain adalah kemampuan
berbicara kemampuan menguasai ilmu pengetahuan melalui
proses tertentu dan lain-lain.
Namun selain memiliki
potensi positif ini,
manusia sebagai al- insan
juga mempunyai kecenderungan
berprilaku negatif (lupa). Misalnya dijelaskan dalam
surah Hud: “Dan jika Kami
rasakan kepada manusia suatu
rahmat, kemudian rahmat
itu kami cabut
dari padanya, pastilah
ia menjadi putus asa lagi tidak
berterima kasih.” (QS: 11:9).
6.
Manusia Sebagai Makhluk Biologis (al-basyar)
Dalam al- Qur’an surah alMu’minūn
dijelaskan: “Dan sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dari sari pati tanah. Lalu Kami jadikan saripati itu air
mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh
(rahim). Kemudian air
mani itu Kami
jadikan segumpal darah,
lalu menjadi segumpal daging, dan
segumpal daging itu kemudian Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang
itu Kami bungkus
dengan daging. Kemudian
Kami jadikan dia makhluk berbentuk lain,
maka Maha Sucilah Allah, Pencipta
yang paling baik.”(QS:23: 12-14).
B.
Wujud Hakikat Manusia (Karakteristik Manusia)
Umar Tirta
Raharja dan La
Sulo mengatakan di antara wujud sifat hakikat manusia adalah sebagai
berikut:11
1.
Kemampuan Menyadari Diri
Melalui
kemampuan ini manusia
betul-betul mampu menyadari
bahwa dirinya memiliki ciri
yang khas atau
karakteristi diri. Kemampuan ini
membuat manusia bisa beradaptasi
dengan lingkungannya baik
itu limgkungan berupa
individu lainnya selain
dirinya, maupun lingkungan
nonpribadi atau benda.
2.
Kemampuan Bereksistensi
Melalui
kemampuan ini manusia
menyadari bahwa dirinya
memang ada dan eksis dengan
sebenarnya. Dalam hal ini manusia punya kebebasan dalam ke ‘beradaan’ nya.
Berbeda dengan hewan di kandang atau tumbuhan di kebun yang ‘ada’ tapi tidak
menyadari ‘keberadaan’ nya.
3.
Pemilikan Kata Hati (Conscience of Man)
Yang dimaksud dengan kata hati di sini adalah hati
nurani. Kata hati akan melahirkan
kemampuan untuk membedakan
kebaikan dan keburukan.
Orang yang memiliki hati
nurani yang tajam
akan memiliki kecerdasan akal budi sehingga mampu
membuat keputusan yang benar
atau yang salah.
4.
Kemampuan Bertanggung Jawab
Karakteristik
manusia yang lainnya
adalah memiliki rasa
tanggung jawab, baik itu tanggung
jawab kepada Tuhan, masyarakat
ataupu pada dirinya
sendiri. Tanggung jawab
kepada diri sendiri
terkait dengan pelaksanaan
kata hati. Tanggung jawab kepada
masyarakat terkait dengan
norma- norma sosial, dantanggung
jawab kepada Tuhan berkaitan
erat dengan penegakan
norma-norma agama.
C.
Potensi Manusia
Jalaluddin mengatakan
bahwa ada empat
potensi yang utama
yang merupakan fitrah dari Allah kepada manusia.
1.
Potensi Naluriah (Emosional) atau Hidayat al-
Ghariziyyat
Potensi naluriah
ini memiliki beberapa
dorongan yang berasal dari
dalam diri manusia. Dorongan-dorongan ini
merupakan potensi atau
fitrah yang diperoleh manusia
tanpa melalui proses belajar.
2.
Potensi Inderawi (Fisikal) atau Hidayat (al-Hasiyyat)
Potensi
fisik ini bisa
dijabarkan atas anggota
tubuh atau indra-indra
yang dimiliki manusia seperti indra penglihatan, pendengaran, penciuman,
peraba dan perasa. jadi bisa dikatakan poetensi merupakan alat bantu atau media
bagi manusia untuk mengenal hal-hal
di luar dirinya.
3.
Potensi Akal (Intelektual) atau Hidayat al-
Aqliyat
Potensi
akal atau intelektual
hanya diberikan Allah kepada
manusia sehingga potensi inilah
yang benar-benar membuat manusia menjadi makhluk sempurna dan membedakannya
dengan binatang. Jalaluddin mengatakan bahwa: “potensi akal
memberi kemampuan kepada
manusia untuk memahami
simbolsimbol, hal-hal yang abstrak, menganalisa, membandingkan, maupun
membuat kesimpulan yang akhirnya
memilih dan memisahkan
antara yang benar
dengan yang salah.
4.
Potensi Agama (Spiritual) atau Hidayat al-
Diniyyat
Selain
potensi akal, sejak awal manusia
telah dibekali dengan fitrah beragama atau
kecenderungan pada agama. Fitrah ini akan mendorong
manusia untuk mengakui dan
mengabdi kepada sesuatu yang
dianggapnya memiliki kelebihan dan kekuatan yang lebih besar dari manusia itu sendiri. Dalam
al-Qur’an dijelaskan: “Maka hadapkanlah
wajahmu dengan lurus kepada agama Allah;
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak
ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui,’ (QS: ar-Rūm:30). Dalam ayat
lain dijelaskan bahwa: “Dan ingatlah
ketika Tuhan-mu mengeluarkan
keturunan anak-anak Adam
dari sulbi mereka,
dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka dan berfirman,
‘Bukankah Aku ini Tuhan mu?’ Mereka menjawab, ‘Betul, Engkau adalah Tuhan kami,
kami menjadi saksi.” (QS: al-A’raf;172).
D.
Pengembangan Potensi Manusia
Jalaluddin mengatakan ada beberapa
pendekatan yang bisa digunakan dalam mengembangkan potensi manusia.
1.
Pendekatan Filosofis
Menurut
pandangan filosofis manusia
diciptakan untuk memberikan kesetiaan, mengabdi dan menyembah
hanya kepada penciptanya. Dalam al- Qur’an disebutkan; “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada- Ku.” (QS: adz- Dzāriyat: 56), dengan begitu menurut
filosofis al-Qur’an manusia memang diciptakan untuk taat dan mengabdi kepada
penciptanya. Sesuai dengan kakikat
penciptaannya, maka keberadaan
atau eksistensi manusia itu
baru akan berarti,
bermakna dan bernilai
apabila pola hidup
manusia telah sesuai dengan blue-print yang
sudah ditetapkan oleh Tuhan.
2.
Pendekatan Kronologis
Pendekatan kronologis memandang manusia sebagai
makhluk evolutif. Manusia tumbuh dan
berkembang secara bertahap dan berangsur. Dalam al-Qur’an dijelaskan: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dari sari pati tanah.
Lalu Kami jadikan saripati itu air mani yang disimpan
dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kamijadikan segumpal
darah, lalu menjadi
segumpal daging, dan segumpal daging
itu kemudian Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami
bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk berbentuk lain. Maka Maha sucilah Allah,
Pencipta yang paling baik.” (QS: al-Mu’minūn: 12-14).
3.
Pendekatan Fungsional
Potensi-potensi yang dimiliki manusia diberikan Tuhan
untuk dapat dipergunakan dan difungsikan
dalan kehidupan mereka. Karena tidak mungkin Tuhan menciptakan sesuatu yang tidak bermanfaat. Semua ciptaan
Tuhan mempunyai maksud dan tujuan,
temasuk potensi-potensi yang diberikan kepada manusia. Dalam surat
ad-Dukhān ayat 38 dijelaskan; “Dan Kami
tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan
bermain-main.
4.
Pendekatan Sosial
Dalam pendekatan ini manusia dipandang sebagai makhluk
sosial. Manusia dianggap sebagai makhluk yang cenderung untuk hidup bersama
dalam kelompok kecil (keluarga) maupun besar (masyarakat).S ebagai makhluk
sosial manusia harus mampu mengembangkan
potensinya untuk bisa berinteraksi didalam lingkungannya dan mampu
memainkan peran dan fungsinya ditengah lingkungannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar